Sejarah dan Latar Belakang Candi Singasari. Candi Singasari—juga dikenal sebagai Candi Singhasari—berdiri di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sekitar 9–10 km utara Kota Malang.

Terletak di lembah di antara gunung Tengger–Bromo dan Arjuno–Welirang, ketinggiannya sekitar 512 meter di atas permukaan laut, dengan orientasi menghadap barat laut ke arah Gunung Arjuno.

Candi ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1300 Masehi sebagai bangunan pemujaan pendharmaan Raja Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singhasari (1268–1292). Disebutkan dalam Nagarakretagama serta prasasti Gajah Mada tahun 1351 sebagai tempat pemujaan atau candi funerari untuk Kertanegara.

Sejarah dan Latar Belakang Candi Singasari

Arsitektur: Simbolisme Kosmis dan Struktur Megah

Candi Singasari tidak hanya monumen sejarah, tetapi juga simbol kosmos Jawa kuno.

Konsep Meru dan Triloka

Bangunan candi mencerminkan struktur Gunung Meru yang sakral, dibagi atas tiga tingkatan: kaki (Bhurloka), tubuh (Bhuvarloka), dan atap (Swarloka). Fungsinya bukan sekedar sebagai tempat pemakaman, melainkan sebagai pilar kosmis atau candi kerajaan, yang mewakili pusat magis dan proteksi spiritual bagi Singasari.

Rancangan Fisik

  • Alas candi berbentuk bujur sangkar, sekitar 14 × 14 meter, dengan tinggi total sekitar 14–15 meter.
  • Terdapat struktur kaki, tubuh, dan atap mirip piramida bertingkat—menyiratkan simbolisme antara dunia manusia, alam antara, dan alam dewa.

Baca juga: Candi Brahu dan Kisah Pembakaran Raja

Elemen Arca dan Ornamen Mistis

Arca Dvarapala

Di dekat candi terdapat sepasang arca Dvarapala raksasa (tinggi sekitar 3,7–4 meter, berat hingga puluhan ton), diposisikan sebagai penjaga gerbang—menambah aura sakral dan protektif. Letaknya yang menandai batas kota kuno Singasari memperkuat dugaan bahwa candi berada di kompleks pusat kerajaan.

Relung dan Arca-dewa

Tubuh candi memiliki relung di keempat sisinya—utara, timur, selatan, dan barat—yang masing-masing dulu berisi arca dewa: Durga, Ganesha, Agastya (Siwa Guru), dan lain-lain. Saat ini sebagian arca hilang atau dipindahkan—misalnya, Ganesha dan Durga dibawa ke Museum Leiden sejak 1804. Arca Agastya yang tersisa menggambarkan resi tua berjenggot, memegang trisula, tasbih, dan kendi—menggambarkan kebijaksanaan dan kekuatan.

Kepala Kala dan Simbol Penjaga

Hiasan kepala Kala terpasang di ambang pintu dan relung—simbol penjaga gerbang suci dan kekuatan mistis.

Saluran Air & Lingga-Yoni

Di dasar lantai candi terdapat saluran air kecil menuju ke teras utara, seolah menyimbolkan cairan kehidupan yang mengalir dari lingga (yang berada di dalam) ke arah luar—menguatkan simbolisme kesuburan dan kesakralan. Di dalam ruang utama ditemukan yoni yang rusak bagian atasnya.

Sejarah dan Latar Belakang Candi Singasari

Aspek Mistis dan Magis

Candi Singasari dirancang bukan sekadar sisa pemakaman, melainkan pusat kosmos magis. Fungsinya sebagai Yantra, yaitu alat pemujaan yang melindungi kerajaan secara gaib, sekaligus memperkuat posisi raja sebagai perwujudan dewa di dunia. Kehadiran struktur Meru, arca pelindung, dan elemen kosmis menunjukkan bahwa candi adalah titik pusat spiritual dan politis kerajaan.

Sejarah Modern dan Pelestarian

Penemuan dan Ekskavasi

Candi ini diketahui oleh dunia Barat pada abad ke-19 ketika gubernur Belanda Nicolaus Engelhardt melaporkan dan melakukan ekskavasi pada 1803–1804. Beberapa arca penting dibawa ke Belanda, yang memicu penolakan masyarakat lokal.

Renovasi dan Proteksi

Pemerintah kolonial Belanda memulai pemugaran pada 1930-an; meskipun demikian, banyak bagian struktur dan pecahan batu masih belum dikembalikan ke posisi semula.

Pada tahun 2022 lalu, jumlah pengunjung yang diizinkan naik ke candi dibatasi demi menjaga kelestarian struktur bangunan .

Baca juga: Misteri Relief Unik di Candi Surawana

Kesimpulan: Warisan Sakral yang Menggugah

Candi Singasari bukan hanya monumen kuno, melainkan manifestasi dari kepercayaan, politik, dan kosmologi kerajaan Singasari. Dengan struktur yang melambangkan Gunung Meru, arca-arca pelindung, dan simbol lingga-yoni yang mistis, candi ini menjadi pusat spiritual sekaligus simbol kekuasaan.

Keberadaannya yang masih kokoh hingga kini menjadi saksi bisu dari kemegahan dan spiritualitas Jawa abad ke-13. Candi ini mengajak kita memahami bahwa di balik batu dan arca tersimpan makna mendalam tentang kosmos, kekuasaan, dan kekuatan magis yang menghantarkan warisan budaya tak terlupakan.